Tampilkan postingan dengan label Makanan Khas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan Khas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2018

Dawet Jabung

Dawet Jabung


Dawet Jabung yang berasal dari Desa Jabung, Ponorogo. Es Dawet atau juga dikenal Es Cendol ini memiliki cita rasa yang khas. Pasti sudah tahu cendol, maka saya tidak akan membahas cendol. Dawet Jabung ini berisi santan, garam, dan gula aren yang biasanya dicampur dengan nangka sehingga menambah kelegitan dari gula aren itu. Kemudian isiannya adalah tape dari ketan hitam, cendol dari tepung aren dan nangka dari gula aren tadi.

Harganya cukup murah bila anda membeli di Jabung. Silahkan anda ke perempatan jabung untuk membelinya. Bila anda membeli di sana, harganya sekitar Rp2.500,00 per porsi. Penjual akan memberikan dawetnya kepada anda melalui sebuah tatakan. Namun anda harus mengambil mangkuknya saja. Karena menurut tradisi, bila seorang pria meminta tatakannya berarti pria itu berniat menyunting penjualnya. Dan bila penjualnya menyerahkan tatakan, berarti penjual bersedia dinikahi. Itu hanya tradisi.

Konon kemahsyuran dawet Jabung berkaitan erat dengan legenda warok Suromenggolo, yang terkenal sakti mandraguna dan merupakan tangan kanan Raden Bathoro Katong (Pendiri dan Bupati Pertama) yang juga anak dari Prabu Brawijaya V.

Diceritakan, suatu hari Warok Suromenggolo terlibat perang tanding melawan Jim Klenting Mungil yang menguasai gunung Dloka dan mempunyai pusaka andalan yaitu Aji dawet upas. Konon, ajian ini berbentuk cendol dawet yang terbuat dari mata manusia. Terkena ajian dawet upas seketika tubuh warok Suromenggolo menderita luka bakar dan ia pingsan seketika.

Warok Suromenggolo akhirnya ditolong oleh seseorang penggembala sapi bernama Ki Jabung. Setelah diguyur dawet buatan Ki Jabung, seketika luka yang diderita Warok Suromenggolo sembuh, bahkan dapat mengalahkan Jim Klenting Mungil dan Jim Gento. Sebagai ungkapan terima kasih, Warok Suromenggolo bersabda, kelak masyarakat desa Jabung akan hidup makmur karena berjualan dawet.

Atau bila anda ingin merasakan dawet jabung yang lebih enak dan lebih modern tanpa meninggalkan unsur Jabung, anda bisa ke Alun-alun Ponorogo dan mencari sebuah warung bertuliskan ‘Dawet Mak Mbing’. Pada dawet Mak Mbing ini, porsinya lebih besar dan ada tambahan gempol. Gempol merupakan bulatan bola yang terbuat dari tepung beras. Dan anda boleh mengambil dawet beserta tatakannya karena penjualnya punya banyak persediaan tatakan :D Tapi memang lebih mahal daripada dawet di desa Jabung. Kalau belum naik, harganya sekitar Rp4.500,00.

Sate Ayam

Sate Ayam Ponorogo


Sate Ponorogo adalah jenis sate yang berasal dari kota Ponorogo, Jawa Timur. Daging ayamnya sendiri sangat empuk dan bumbunya meresap. Sate Ponorogo berbeda daripada Sate Madura yang populer. Perbedaannya adalah pada cara memotong dagingnya. Dagingnya tidak dipotong menyerupai dadu seperti sate ayam pada umumnya, melainkan disayat tipis panjang menyerupai fillet, sehingga selain lebih empuk, gajih atau lemak pada dagingnya pun bisa disisihkan. Sate daging ayam dapat disajikan bersama dengan sate usus, kulit, dan telur ayam muda. Perbedaan berikutnya adalah sate Ponorogo melalui proses perendaman bumbu (di"bacem") agar bumbu meresap ke dalam daging. Sate daging, usus, dan kulit dibumbui dengan bumbu kecap dan minyak sayur.
Setelah bumbunya merata, sate dipanggang di atas pemanggang sate selama kurang lebih 3-5 menit. Alat pemanggang sate Ponorogo terbuat dari tungku (panggangan) yang terbuat dari tanah liat. Panggangan ini memiliki lubang di satu sisi untuk mengipas bara arang didalamnya. Setelah berwarna kecoklatan, semua sate diletakkan di atas piring untuk dibumbui lagi dengan Bumbu Spesial. Setelah matang, sate dilumuri dengan bumbu kacang yang ditumbuk halus.
Sulit menemui restoran atau penjual Sate Ayam Ponorogo di luar kota asalnya di Jawa Timur ini, selain belum tentu menemui kesamaan cita rasa aslinya. Meskipun demikian beberapa warung atau restoran yang menyajikan sate Ponorogo dapat ditemukan di Surabaya dan Jakarta.

Gethuk Golan

Gethuk Golan


Sekitar 5KM dari pusat Kota ponorogo, terdapat sebuah desa yang terkenal denjgan kuliner gethuknya, yakni Desa Golan Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo.
Sejak dulu dan sudah turun temurun penduduk desa Golan membuat dan menjual gethuk ini. Gethuk yang di buat masyarakat desa Golan masih gethuk murni berwarna putih berbahan utama singkong tanpa ada tambahan gula merah. Namun berdeba dengan dulu, saat ini hanya tinggal sekitar 12 orang yang masih bertahan memproduksi dan menjual Gethuk Golan.
Dari segi tampilan dan rasa, getuk Golan memang berbeda dari getuk biasa. Jika getuk biasa adalah olahan singkong yang ditumbuk bersama gula jawa,getuk Golan disajikan bersama ketan/jadah ,taburan parutan kelapa dan cairan gula kelapa yang manis.
Daya tarik kedua adalah dari segi harga yang cukup murah hanya dengan merogoh kocek sebesar 1000 Rupiah saja kita bisa menikmatai lezatnya gethuk golan. Di sajikan di atas daun pisang, tampilan tradisional sangat kental dirasakan.